Tampilkan postingan dengan label Pojok Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Sastra. Tampilkan semua postingan
FIHI MA FIHI

FIHI MA FIHI


(Mawlana Jalaluddin Rumi)

Telah kuuraikan Cinta dan kupaparkan luas
namun kala kudatangi dia, aku malu pada uraianku.
walau lidah sanggup menerangkan apa itu Cinta,
namun penjelasan  Cinta  tanpa lisan lebih terang lagi.

Pena begitu gegabah menulis tentang Cinta,
namun begitu mencapai Cinta kata-kata pecah berkeping-keping.
untuk menguraikan Cinta, akal tak berdaya bagai keledai jatuh dilumpur.
namun cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan kisah-kisahnya.

Matahari membuktikan keberadaannya dengan sinarnya sendiri.
jika bukti sudah ada, jangan palingkan wajahmu darinya.
Jika tergantung bentuk dan warna ia bukan cinta;
Karena warna akan luntur, begitulah cinta sesaat
harus kuenyahkan dari dirimu. Ia harus ditukar dengan
cinta sebenarnya dan apa saja selain 'Aku' 
enyahkan  dari sampingmu.


Tarian Rembulan


Kemanapun arahmu berjalan
kau jejakkan langkah-langkah tarian yang indah
kakimu menelusuri diantara daun-daun kering yang gugur pada musim ini
tak heran jika kau telah sampai pada sebuah mata air
dan menyalurkan airnya sepanjang jalurmu
kepada orang-orang
yang kau kenali dengan pancaran cahaya dikeningnya.

oh... penuntun 
kau jawab rindu kami
hantarkan kami kepada Sang Nabi
yang kabar gembiranya disambut dengan tarian rembulan
berputar dan indah....

Pekalongan, 3 Dzulhijjah 1435 H
 

Ampun Tuhan, ampun...

Irisan mata ini tidak dapat mengelabui hati,
bersama siapakah kita akan berdamai ?

garis tangan ini telah berjanji
dan janjinya adalah janji mentari...
mengapa hatiku tidak seperti yang aku pikirkan ?

disamping siapa jiwa ini bisa tenteram ?


diam-diam jiwaku ini adalah jiwa yang rendah
bawah sadarku tidak lagi terkontrol

ampuni hamba Tuhan....
hamba telah jumawa dan tersesat...

ampuni
ampun

Pekalongan, 16 April 2012
T U G U

T U G U

Dahulu kau suka kecupi untaian kalimatmu sebagai janji,
lalu kau titipkan pada angin yg akan mengantarkanya pada sebuah sebuah tugu pelipur waktu
dan akan kau pandangi ketika engkau rindu.
Tugu kesetiaan yang kokoh...
namun itulah kenyataan janjimu yg kau sayapi
Kadang-kala katamu menjadi buas menerkam dirimu sendiri...

Sekarang kau menjejakkan kakimu, patahkan sayap-sayap lisanmu...
saatnya kau memandang dalam-dalam kepada tugu itu...
Bukankah sudah lama kau tak memasrahkan kewibawaanmu pada yg berhak..?


Kedungwuni, 31 Maret 2012